Georg Simmel : Konsep dan Tragedi kebudayaan (Sebuah Wacana)

Keterbatasan bahasaku, adalah keterbatasan duniaku.”

Kalimat paling fenomenal yang pernah diucap-tuliskan oleh seorang filsuf kenamaan Prancis, Henri Bergson yang membuat saya sedikit mengeryitkan dahi melihat fenomena keterbatasan saya dalam memahami bahasa manusia. Iya, tulisan dari Simmel yang dialih-bahasakan oleh Peter Erzkorn kedalam bahasa Inggris ini tidak mudah dipahami bagi kalangan awam bahasa seperti saya. Kata-kata yang dipakai oleh sang penerjemah tidaklah merupakan bahasa yang sering saya jumpai dalam tulisan-tulisan biasa, maka dari itu usaha untuk memahami apapun dari terjemahannya saja membutuhkan waktu dan tenaga yang melimpah ruah, apalagi PR kedua yaitu memahami sebagian bahkan keseleruhan dari isi tulisan Simmel.

Satu dua hal yang dapat saya mengerti dari tulisan Simmel ialah bahwa fenomena mengenai kebudayaan dilahirkan tidak terlepas dari pertentangan antara subjek-objek. Diawali dengan sebuah pernyataan darinya bahwa manusia bukanlah seperti hewan yang membiarkan dirinya terkungkung dan terbelenggu dalam keteraturan kosmos alam dunia. Manusia berbeda, manusia tidaklah sama dengan alam atau apapun didunia ini, manusia sengaja “membikin” sebuah konfrontasi besar antara manusia dan hukum alam dengan tujuan ingin terlepas dari belenggu hukum alam itu sendiri. Dari situlah awal mula suatu hal yang dikatakan oleh Simmel sebagai dualisme antara subjek-objek yang tidak pernah akan berakhir.

Subjek diartikan sebagai suatu struktur otonomi khusus manusia yang keberadaanya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan hukum alam itu sendiri, yaitu sebagai objek. Oleh Simmel konfrontasi semacam inilah yang menjadi ruang tersendiri bagi kebudayaan berada, yaitu diantara subjek dan objek. Ruang inilah yang bisa dikatakan sebagai penghubung antara subjek-dan objek, atau bahkan sebaliknya. Subjek dalam bahasan Simmel yang saya pahami adalah sebuah keunikan yang selalu mencoba untuk melampaui keunikan itu sendiri. Seperti mudahnya adalah subjek selalu berusaha untuk menyamai atau bahkan melampaui objek, dan penghubung antara keduanya adalah melalui instrumen yang dinamakan kebudayaan.

Konsep mengenai kebudayaan dikatakan oleh Simmel berada tepat diantara dualisme ini. Hal itu berdasarkan situasi dimana hanya dapat dibicarakan dan diekspresikan secara unik. Dianalogikan oleh Simmel, sebagai sebuah jalan menuju jiwa, jiwa tidak bisa hanya direpresentasikan sebagai sesuatu yang diberikan begitu saja, menurut Simmel hal itu lebih dari sekadar pemberian. Dia beranggapan bahwa jiwa sebagai sesuatu yang lebih, perwujudan dari kelebihan itu sendiri, tak nyata, dan abadi. Disini dapat kita lihat bahwa kebudayaan menghantarkan kita dari suatu kesatuan yang tertutup menuju pada suatu keanekaragaman dan pada suatu kesatuan.

Manusia dan kebudayaannya selalu berhasrat untuk berkembang menuju wilayah perkembangan yang tak dapat diukur dan dihitung dengan angka-angka. Ini merupakan contoh sederhana dari bagaimana hasrat manusia yang selalu ingin melampaui dirinya sendiri, yang dapat kita tarik dari sini adalah berkat hasrat dan keinginan inilah manusia menciptakan “kebudayaan” atau bahkan mungkin “peradaban”. Oleh Simmel dikatakan bahwa kebudayaan selalu mengikuti hasrat dari linguistic feeling, atau pada titik seperti ini kebudayaan selalu mengikuti hasrat dari bahasa kita.

Simmel memberikan kita pengertian bahwa sesuatu akan bisa bernilai budaya ketika apa yang kita perbuat menjadi suatu kesatuan yang sempurna. Menurut pemahaman saya bahwa kebudayaan itu selalu mengandaikan sesuatu yang bersifat jamak, apalagi selain itu. Suatu kelakuan manusia tidak mampu di katakana sebagai kebudayaan ketika hal itu tidak bersifat jamak, walaupun berasal dari hasrat diri sendiri. Akhirnya kebudayaan merupakan usaha dari manusia untuk mencari “titik aman” bahwa sebenarnya manusia tidak pernah mampu melampaui hasrat dirinya sendiri, manusia hanya mampu menciptakan titik-titik batas mereka sendiri, yang selalu berhasrat untuk menciptakan konfrontasi dan perlawanan atas hasrat dan keinginannya sendiri.

 

Entahlah–


About Zufi Misbahus Surur

view all posts

Hanya sedang belajar menjadi Manusia.

You May Like This


  1. Wah, lumayan lah buat tugas filsafat kebudayaan wkwkwk

    akhmad Karunia Akbar / Reply
  2. You’re so awesome! I don’t think I’ve read something like
    that before. So nice to discover another person with genuine thoughts on this topic.
    Seriously.. many thanks for starting this up. This web site is one thing that is needed on the
    internet, someone with some originality!

  3. Hey, that post leaves me feeling fosiolh. Kudos to you!

    Lena / Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*