“Bumi Manusia” Sebuah Ungkapan Kekaguman Dalam Kekerdilan Manusia

“Kartini pernah mengatakan : Mengarang adalah bekerja untuk keabadian, Kalau sumbernya abadi, bisa jadi karangan itu menjadi abadi juga.” Pramoedya, “Anak Semua Bangsa”.  

 

Membicarakan Pramoedya atau jamak kita kenal dengan sebutan Pram, adalah membicarakan kehidupan, membicarakan ketidakberdayaan manusia terhadap realitas dan membicarakan hal yang mahfum kita maklumi dalam kehidupan menjadi hal yang najis untuk kita banggakan kemudian. Saya tidak tahu apakah pemahaman saya atas karya-karya Pram adalah murni dari hati manusia yang suci secara objektif sedangkan saya diajarkan untuk tak pernah sepakat dengan ke-objketif-an itu sendiri, namun  yang dapat saya bicarakan sebagai alat tawar adalah anda akan tidak semakin mengerti dengan keadaan disekeliling kehidupan.

Ketika pertanyaan secara tiba-tiba muncul dibenak saya, entah datang dari mana saya tidak mengerti, entah dari langit yang paling tinggi atau dari palung yang paling dalam. Pertanyaan itu muncul dengan nada memaksa, menekan, menghakimi dan memperbudak kurang lebih berbunyi seperti ini “Mau kau mulai dari mana membicarakan Pram, sedangkan Pram tak pernah sekalipun ingin kau bicarakan apalagi kau bolak-bolak balik lembaran tulisannya itu? Terlebih menyedihkan lagi, Pram tak pernah sama sekali pun mengenalmu, kau berada diruang, waktu, semangat dan zaman  yang berbeda dengannya”. Ah, lagi-lagi pertanyaan itu menghantui, bahkan disetiap pagi ketika menjelang pukul 02.00 dini hari.

Kemudian semakin kesini, semakin lagi tak tau arah, entah. Bagaimana Pram membuat tulisan-tulisannya seakan menjadi embrio bagi lahirnya pertanyaan memalukan yang sampai sekarang belum terjawab, atau bahkan tak akan terjawab. Pertanyaan itu, seperti memiliki kehendak sendiri, semau-maunya datang dan pergi. Pertanyaan penting atau tidak bagi kehidupan generasi virtual pemalas seperti saya ini. Pertanyaan tadi kemudian menjadikan saya ingin paling tidak memberikan istilah, gopnik, iya gopnik mungkin sedikit cocok. Istilah dalam bahasa Rusia yang dipahamai sebagai yang berlebihan, atau lebay dalam budaya kekinian di Indonesia. Lantas gopnik semakin beranak-pinak tak terbatas waktu dan bilangan, entah bilangan genap atau bilangan prima, tak tau lagi lah saya. Kalau hanya sekadar istilah, tentunya hal itu tak sebegitu pentingnya ketimbang isu terorisme, civil war, atau papa minta saham yang menjadi viral baik di televisi maupun koran virtual saat ini.

Kata Kartini, mengarang adalah bekerja untuk keabadian. Cukup, saya penggal dulu kalimatnya sampai disitu dan saya coba pahami benar-benar tafsiranya, baik secara etimologis maupun psikologis. Saya berasusmsi bahwa mengarang atau lebih lunak dengan istilah “menulis” adalah bekerja untuk keabadian dalam hal ini sementara sepakat. Iya sepakat, tidak lain atau bisa dikatakan sependapat. Bagi saya, bekerja tidak hanya melulu soal hasil, tapi lebih kepada esensinya, boleh dikata “proses” entah sepakat atau tidak, saya kira itu bukan urusan saya. Namun berbeda lagi, ketika semangat itu kita tanyakan pada tokoh Jean Marais yang diciptakan oleh Pram, entah nyata atau sebatas khayalan. Bagi Jean, bekerja untuk keabadian tidaklah mengarang atau menulis namun bekerja untuk keabadian adalah “melukis”. Jean mengatakan “bahasaku adalah bahasa manusia, bahasa warna”, bagi saya Jean juga seorang pengarang dan penulis yang bekerja untuk keabadian namun dengan “bahasa” yang berbeda. Oh ya, dalam tulisan ini saya tidak akan memakai standar tulisan ilmiah, saya hanya berbicara sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Karena saya pun tidak begitu mafhum terhadap standar tulisan yang bisa dikata ilmiah atau tidak, maafkan atas ketakmafuhan saya terhadap hal itu, yang saya pahami sebagai pembaca dan penulis pemula adalah soal kenyamanan dan kebebasan dalam mengutarakan pendapat. Keabadian, tak menuntut saya untuk mengarang sesuai dengan standar yang dibikin oleh manusia.

Baiklah, mari kita mulai mengurai satu persatu benang kusut yang sengaja dikusutkan. Saya, tidak akan membicarakan atau mengajak anda sekalian berbicara mengenai kebaikan dan keburukan karena hanya Tuhan yang berhak dalam hal itu, walaupun lagi-lagi Tuhan juga memberikan kebebasan kepada umatnya untuk mempelajari dari sabda dan ajarannya melalui kitab-kitab suci yang ada. Saya akan mengajak anda untuk sekedar mengulas kembali, atau membicarakan tokoh Pram dan karyanya seperti kebanyakan orang dalam budaya kekinian. Sudahlah, lagi-lagi pikiran ini mengajak untuk bermain-main dan berbelit-belit. Saya, tidak akan mencoba untuk menceritakan karya Pram, dalam hal ini “Bumi Manusia” secara lugas dan detail. Saya kira sebagai generasi muda sepantasnya paling tidak telah khatam membaca karya sastra ini barang sepuluh atau dua puluh kali. Pramoedya yang saat itu menerima nasib agak menjengkelkan, yakni menjadi tahanan politik yang dipandang menjadi salah satu ancaman bagi negara diasingkan dan diinapkan di hotel prodeo, atau lazim kita sebut penjara di pulau Buru, mampu menghasilkan karya sastra yang berlimpah. Karya-karya Pram memang dikenal dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, diantaranya adalah Tetralogi Pulau Buru. Saya kira karya ini menjadi Magnum Opus-nya Pram. Walaupun sempat beberapa kali dilarang peredaranya oleh pemerintah pada waktu itu, dan lagi saya kira itu menjadi rahasia umum yang semua orang pasti mengetahuinnya.

Pram, mengajak kita untuk bangkit dari ketaksadaran atas realitas yang senantiasa meninabobokan kita. Saya atau bahkan anda pastilah pernah menerima pelajaran sejarah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa kolonial terhadap Indonesia yang dulu masih  menyandang nama Hindia-Belanda di sekolah-sekolah, sekolah negeri maupun non-negeri. Pelajaran yang disampaikan tidak lebih dari kata membosankan, atau lebih arogan membodohkan. Kita diajak untuk mengarungi bahtera pengetahuan hanya lewat satu kacamata saja. Sejarah dalam sistem pembelajaran di negara kita sengaja dipelintir sampai pada titik terkutuknya. Oleh Pram, kita diajak untuk kembali mempertanyakan apakah sebenarnya kita memang dijajah sepenuhnya oleh bangsa kolonial. Saya kira, ketika kacamata yang digunakan adalah soal ekonomi dan pembagian wilayah jajahan bisa kita maklumi kebenarnanya. Namun, ketika kita lihat hal demikian dengan kacamata budaya, pembagian kekuasaan atau feodalisme bahkan dengan kacamata feminisme maka bolehlah sekiranya kita tidak sepakat dengan kebenaran atas hal itu. Berawal dari refleksi atas realitas yang ada dan kondisi-kondisi yang saling bertaut-tautan mungkin saya dapat sedikit menyumbang pendapat bahwa Pram dalam Tetraloginya berangkat dari hal-hal yang berkaitan erat dengan kehidupan sekeliling (budaya Jawa), pendek kata sebab-musabab ditulisnya Tetralogi Pulau Buru. Sepakat atau tidak, lagi-lagi itu bukan urusan saya.

Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam “Bumi Manusia” adalah representasi dari kecerdasan berpikir seorang Pram. Dari tokoh Mingke dengan labilitasnya dalam kehidupan, yakni seorang yang sombong namun kerdil, seorang yang arogan namun cerdas, dan seorang yang durhaka namun terampuni. Kembali membuat saya pribadi mengeleng-gelengkan kepala, apa yang akan Pram lakukan dengan tokoh bernama Mingke. Kemudian seorang gundik bernama Sanikem atau akrab disebut sebagai Nyai Ontosoroh dengan lika-liku kehidupannya yang tidak sejalan dengan alur cerita sinetron abad kontemporer saat ini. Tokoh yang dengan dendam kesumat atas bapaknya sendiri yang telah rela “menjual” dirinya kepada seorang totok Belanda demi sebatas mendapatkan jabatan juru bayar, mampu menjadi pionir, guru, bahkan tulang punggung keluarganya.

Sanikem atau Nyai Ontosoroh lagi-lagi adalah representasi dari kecerdasan Pram dalam menganalogikan kejadian-kejadian bahkan budaya yang pada masa itu memang benar adanya menjadi tulisan yang menggairahkan batin dan oase bagi kekerdilan, kekeringan atau apalah namanya atas pengetahuan saya. Kemudian seorang Jean Marais dengan kuotasi-kuotasinya yang abadi kembali menyegarkan dahaga atas hausnya pengetahuan saya pribadi. Kata Jean, “sebagai seorang yang terpelajar, kau harus adil sejak dalam pikiran” yang bagi saya hal ini sedikit ada kemiripan dengan pemikiran plato tentang Ide. Saya berfikir, kalaupun memang benar-benar ada secara nyata orang-orang yang ditokohkan dalam “Bumi Manusia” itu, betapa sangat beruntungnya mereka memiliki cerita kehidupan dan anugerah atas dirinya yang tumpah-tumpah itu. Namun bukan itu substansi yang coba di sampaikan oleh Pram kepada pembacanya. Saya lagi-lagi berasumsi bahwa Pram mengajak kita kembali untuk merefleksikan fenomen-fenomen yang pernah terjadi pada masanya. Pram, secara tersirat menyatakan bahwa dirinya melawan, mengajak kita untuk melawan dalam dengan kemampuan dan ketidakmampuan, namun dengan cara yang elegan.  

  “Mbah Pram, mungkin cukup sampai disini saya menggunjing” sampean”  dari tulisan-tulisan. Kemudian saya akan berdoa kepada Tuhan, agar paling tidak saya bisa diberikan kesempatan untuk berziarah kepusaramu dan berdoa disurau-surau agar nama dan karyamu tetap abadi.”   Yogyakarta 24-1-12015


About Zufi Misbahus Surur

view all posts

Hanya sedang belajar menjadi Manusia.

You May Like This


  1. Pram menyuguhkan sejarah dengan cara lain dari umum dituwangakn untuk diteguk anak-anak di banyak sekolah dan Indonesia. Membaca buku-buku sejrah di sejak SD-SMU, lebih tepatnya ELKAES (buku tipis berisi kutipan-kutipan catatan tentang masa yang telah lampau dan menjenuhkan kerna hanya tanggal, tempat, dan siapa), buku tipis kayak sampai titik sekarang masih membanjiri murid-murid di banyak sekolahan. sedikit dari mereka yang sungguh membaca buku sejarah yang umumnya memang tebal-tebal itu. Pram dengan tetralogi itu memberi sentuhan beda dalam menyuguhkan sejarah pada generasasi sejamannya juga generasi sesudahnya. Betapapun itu adalah novel, yang fiksi, tetapi, mengingat tak pernah aku menyentuh buku itu di kala masih duduk di bangku sekolah, sangat layak dan patut untuk dibaca, kerna itu perpustakaan sekolahan mestinya memilikinya dalam jumlah yang memadai. untuka apa? agar tidak sepeti saya yang hanya mendengan nama Pram diulang-ulang oleh guru sastra indonesia tanpa bersentuhan langsung dengan karyanya.
    tapi bagaimana?

    eN / Reply
  2. Very valid, pithy, sucnccit, and on point. WD.

    Banjo / Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*